KONSEPSI INKUBATOR BISNIS

OLEH : Drs. Dandan Irawan, M.Sc.

 

I.PENGANTAR

 

Pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) harus sejalan dengan berbagai aspirasi yang timbul di masyarakat luas yang mengharapkan peningkatan keberadaan UMKM dalam pembangunan perekonomian. Oleh karena itu pemberdayaan UMKM perlu ditingkatkan, diperluas dan diperdalam. Upaya pemerintah dalam membentuk iklim usaha yang kondusif sudah mulai dilakukan.

 

   Iklim usaha yang diupayakan   pemerintah dan peluang yang ada belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha termasuk di dalamnya fasilitas kredit khusus, pembebasan pajak impor, akses terhadap informasi pasar, dan lain-lain.  Hal ini banyak pula terkait dengan permasalahan yang dihadapi dalam mengembangkan UMKM.

 

Pada prinsipnya, secara umum ada dua cara untuk membantu UMKM. Pertama, melalui program pengembangan yang dapat membantu UMKM berproduksi atau berusaha secara lebih efisien sehingga dapat bersaing secara efektif dengan  perusahaan besar pada lini-lini yang cocok untuk UMKM yang skalanya memang lebih kecil dari perusahaan besar.  Kedua, bantuan yang bersifat protektif (melindungi) atau restriksi (pembatasan), yaitu membantu UMKM dengan jalan manghalangi perusahaan lain sehingga dapat mendorong UMKM yang hanya dapat hidup selama UMKM tersebut terlingdung dari persaingan dengan produsen atau perusahaan lain yang lebih efisien.

 

Selanjutnya dalam rangka pemberdayaan UMKM dapat dilakukan tiga prinsip penting yang perlu dipertimbangkan, yaitu: (1) prinsip kombinasi dan interaksi, (2) prinsip adaptasi, (3) prinsip seleksi.  Implikasi praktis dari ketiga prinsip ini adalah bahwa perencanaan program pemberdayaanharus komprehensif untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan utama yang mempengaruhi  UMKM dan interaksi diantara kekuatan-kekuatan itu dalam lingkungan lokal.

 

Pemberdayaan dan pemberdayaan UMKM secara terpadu harus disusun sedemikian rupa, sehingga dapat menjawab kebutuhan UMKM itu sendiri, dalam mengembangkan kegiatan usahanya. Pemberdayaan terhadap UMKM tidak hanya berupa keluarnya peraturan dan kebijaksanaan yang berpihak pada UMKM, tetapi juga turunnya berbagai bantuan fasilitas usaha yang diharapkan dapat mendukung kelangsungan serta mempercepat perkembagan UMKM. 

 

Dalam terminologi bisnis, pengembangan kreatifitas dan inovasi merupakan hal yang sangat penting, karena hal ini akan berdampak pada daya tahan/keberlangsungan perusahaan dalam jangka panjang. selain juga dapat mendorong terjadinya peningkatan kualitas produk (barang dan jasa) yang dibutuhkan oleh masyarakat.  Proses penumbuhan kreatifitas dan inovasi memerlukan media yang kondusif sebagai daya dukung percepatannya. Dalam konteks inilah, kehadiran inkubator bisnis dapat menjadi media yang diharapkan akan dapat membantu proses percepatannya (katalisator).

 

Secara sederhana, inkubator bisnis dapat dikatakan sebagai suatu tempat yang menyediakan fasilitas bagi percepatan penumbuhan wirausaha melalui sarana dan prasarana yang dimiliki sesuai dengan base competency-nya. Dengan memanfaatkan fasilitas dan layanan yang disediakan oleh inkubator, para pengguna jasa (tenant) dapat memperbaiki sisi-sisi lemah dari aspek-aspek wirausaha.  Pengembangan inkubator bisnis terkait sangat dengan pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah/ UMKM (micro, small & medium enterprises/ SME’s), karena penumbuh ekonomi pada umumnya dimulai oleh kehadiran usaha mikro dan kecil. Pengusaha mikro dan kecil merupakan bagian terbesar dari pelaku bisnis di Indonesia, sehingga secara kuantitatif kelompok ini mempunyai peran yang sangat penting dan strategis.  

 

Sejauh ini fenomena pengembangan usaha kecil masih dihadapkan pada berbagai masalah, yang disebabkan oleh rendahnya akses mereka terhadap berbagai sumber kemajuan usaha, seperti : pemasaran, permodalan, teknologi, informasi, manajemen, dan kemitraan usaha. Kondisi ini, selain menyebabkan lambatnya proses pengembangan usaha kecil, juga menyebabkan daya tahan mereka menjadi sangat rentan.  Pada banyak kasus, usaha kecil di Indonesia (bahkan di negara maju seperti USA) tidak mampu bertahan lama. Umumnya mereka gagal dalam mempertahankan usahanya pada 3 hingga 5 tahun pertama. Dalam konteks ini, kehadiran inkubator bisnis dapat memiliki 2 (dua) peran, yaitu :

 

1)Mempercepat penumbuhan wirausaha baru;

 

2)Mengembangkan dan memperkuat usaha yang telah dijalankan oleh wirausahawan.

 

Lahirnya wirausaha baru dan terjadinya penumbuhan usaha yang telah ada, pada gilirannya akan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional. Kontribusi tersebut antara lain berupa :

 

1)Meningkatnya produk domestik;

 

2)Peningkatan pendapatan masyarakat;

 

3)Diversifikasi produk (barang dan jasa; kebutuhan masyarakat);

 

4)Peningkatan daya serap tenaga kerja; 

 

Sebagai sebuah lembaga (institution), inkubator bisnis harus dikelola secara profesional. Sesuai dengan karakteristik spesifik pola pengelolaannya. Dalam kaitan ini, terdapat beberapa tipe inkubator bisnis, antara lain :

 

1)Inkubator Bisnis Afiliasi Perguruan Tinggi (University Affiliated) .

 

Inkubator bisnis ini merupakan bagian organik dari sesuatu institusi perguruan tinggi. Inkubator ini biasanya didirikan dengan tujuan untuk melakukan penelitian (research) dan penemuan produk-produk yang marketable.

 

2)Non Profit Inkubator

 

Non Profit Inkubator adalah inkubator bisnis yang dikembangkan bukan sebagai institusi bisnis (tidak berorientasi laba). Biasanya inkubator bisnis seperti ini dikembangkan dan disponsori oleh pemerintah (pusat/daerah) sebagai sarana/instrumen pemerintah dalam pengembangan ekonomi.

 

3)For Profit Inkubator

 

Inkubator bisnis ini dikelola untuk menghasilkan keuntungan (laba) dengan cara menjual jasa yang dimilikinya.

 

 

 

4)Hybrid-Public/Private Inkubator

 

Inkubator pola ini biasanya dikelola dengan pola joint management antara pemerintah dengan sektor swasta. Inkubator yang dikelola dengan pola seperti ini umumnya mempunyai kelebihan karena memiliki akses yang baik kepada pihak pemerintah dan praktisi. Pemerintah dan praktisi memungkinkan untuk memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan inkubator.

 

Diakui bahwa inkubator bisnis merupakan suatu model pendekatan baru yang diterapkan untuk mempercepat penciptaan calon pengusaha baru atau peningkatan kualitas pengusaha mikro, kecil & menengah yang tangguh dan profesional. Program pembinaannya dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan selama jangka waktu tertentu sampai mereka mandiri dan sanggup beradaptasi dengan dunia usaha yang sebenarnya. Konsep inkubator bisnis ini telah banyak diterapkan di beberapa negara bagian Amerika Serikat, Eropa, China, Asia dan Australia. Di negara-negara tersebut program inkubator bisnis telah teruji keberhasilannya dalam menciptakan wirausaha baru, baik dari lingkungan perguruan tinggi, maupun dari masyarakat setempat. Sebagai contoh misalnya; di California’s Silicon Valley, Massachusetts’ Roue 128, Texas’ Silicon Corridor dan Nijmegen University di Belanda.  Menurut beberapa referensi, pengusaha pemula di AS yang tidak melalui program inkubator bisnis, 80 persen usahanya gagal dalam umur lima tahun. Sedangkan pengusaha yang tumbuh melalui inkubator bisnis, hanya 20 persen yang gagal usahanya dalam periode waktu yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa Program Inkubator Bisnis sudah teruji kehandalannya dalam menciptakan dan menumbuhkan wirausaha-wirausaha baru yang tangguh dan handal. 

 

Secara umum, implementasi modal Inkubator Bisnis dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu ada yang tenant-nya  di dalam gedung atau kawasan (InwallIncubator Model) dan ada juga yang tenant-nya di luar gedung (Outwall Incubator Model). Yang diterapkan di beberapa negara maju kebanyakan model di dalam gedung (Inwall Incubator Model). Masing-masing model memiliki keunggulan dan kekurangannya. Keunggulan sistem incubator inwall memang lebih tersentralisir dan terorganisir tenant-tenant-nya di suatutempat atau kawasan, sehingga memudahkan Tim Manajemen Inkubator untuk melakukan berbagai upaya pembinaan yang dibutuhkan oleh masing-masing tenant-nya. Kelemahannya, memerlukan investasi yang cukup besar untuk memulainya, terutama untuk pengadaan tempat dan ruangan, alat-alat komunikasi dan informasi, barang-barang inventaris dan meubelair kantor, serta lokasinya yang strategis.  Pada sisi lain, jumlah tenant yang dibinanya menjadi sangat sedikit, karena dibatasi oleh ruang dan gedung. Selain itu, belum tentu semua UMKM yang menjadi tenantnya membutuhkan dan siap menggunakan fasilitas ruang perkantoran yang telah disediakan tersebut, apalagi mereka belum apa-apa diharuskan membayar sejumlah uang tertentu. Hal ini tidak terlepas dari berbagai pertimbangan teknis, budaya dan ekonomis dari masing-masing usaha tenant tersebut. Sedangkan model incubator outwall, keunggulannya tidak dibatasi oleh ruang dan fasilitas gedung, sehingga jumlah yang dibinanya bisa relatif lebih banyak dan cukup bervariatif. Kelemahannya memang cukup banyak menyita waktu, tenaga kerja dan energi dari Tim Manajemen Inkubator Bisnisnya. Dengan kata lain, khusus di Indonesia dapat dimulai dari pendekatan model outwall dahulu dengan pertimbangan bahwa suatu waktu setelah usahanya berkembang dan layak bayar jasa sewanya, maka diharapkan mereka dapat mulai di masukkan ke dalam program Inwall model. Secara praktis, model pendekatannya memang berbeda dengan pola pembinaan UMKM dan kewirausahaan yang sudah umum dilakukan oleh lembaga-lembaga pembinaan UMKM di Indonesia. Perbedaannya terutama dalam hal mekanisme dan proses pelaksanaannya. Program pembinaan pengusaha mikro kecil & menengah yang sudah dilakukan di Indonesia pada umumnya bersifat sporadis dan insidentil, sehingga dampak pembinaan yang dilakukan terhadap perkembangan usaha tenantnya sulit dimonitor dan dievaluasi. Dalam pelaksanaannya, model inkubator bisnis menerapkan konsep pendekatan yang terprogram, terpadu dan berkesinambungan selama jangka waktu tertentu sampai mandiri dan siap beradaptasi dengan dunia usaha yang sebenarnya. 

 

II. PENGERTIAN 

 

Secara umum definisi inkubator itu sendiri masih belum seragam. Setiap pihak yang berkepentingan dengan inkubator ini mendefinisikan secara berbeda-beda sesuai dengan kepentingan masing-masing pihak tersebut.

 

Meminjam istilah dari bidang kedokteran yaitu inkubator yang berarti suatu tempat atau alat atau suasana/lingkungan atau sistem, dengan kondisi, temperatur, kelembaban dan aliran udara yang secara sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga bayi yang lahir prematur yang ditempatkan di dalamnya akan mengalami pertumbuhan lebih baik. dan bila pertumbuhan si bayi sudah dipandang cukup baik, maka bayi tersebut akan dikeluarkan dari kotak inkubator tersebut.

 

Istilah ini kemudian diserap oleh dunia bisnis menjadi istilah baru yaitu inkubator bisnis. Dari istilah tersebut lahirlah sebuah konsep pembinaan bagi usaha kecil yang dikenal dengan pola inkubator bisnis.  Pola inkubator bisnis ini muncul pertama kali di Amerika Serikat. Pola ini ditujukan untuk memfasilitasi pengembangan kreativitas dan pendidikan kewirausahaan.

 

Menurut Pusat Inkubator Bisnis Ikopin, inkubator bisnis berarti suatu media tempat pengeraman untuk membentuk, mengembangkan dan meningkatkan keterampilan berusaha bagi calon/wirausahawan, pengusaha kecil dan pengelola koperasi, sehingga inkubator bisnis merupakan mekanisme dan fasilitas bagi pengusaha pemula untuk magang/praktek menjalankan usahanya antara lain dalam bidang manajemen, keuangan, pembuatan business plan, produksi, desain, research, dan innovations, pemasaran, dan lain-lain.

 

Menurut N. Hoedhiono Kadarisman Inkubator Bisnis ialah “suatu institusi atau tempat di mana bisnis baru bisa bersemi. Dalam institusi itulah para calon pengusaha diberi fasilitas operasional, yakni berupa fisik, seperti kantor dengan sekretariatnya, bantuan teknis, manajemen usaha, pemasaran produk, konsultasi, petunjuk teknis, dan berbagai bentuk bantuan lainnya yang diperlukan dengan biaya serendah mungkin sehingga bisa dijangkau oleh pengusaha baru yang disebut sebagai tenant atau Penyewa yang memerlukan waktu sekitar tiga hingga lima tahun” (Pola Inkubator, 1997:72).

 

Sementara itu inkubator bisnis menurut Raymond W. Smilor dan Michael Doud Gill, Jr. bahwa:

 

An incubator is not only an organization, it also a physical unit incubator starts as single building or group buildings in which participating entrepreneurs can be housed together to interact spontaneously. (The New Business Incubator, 1994:20), yaitu bahwa inkubator tidak hanya sebagai suatu organisasi saja tetapi juga merupakan suatu unit fisik yang berupa suatu bangunan di mana para pengusaha atau pun calon pengusaha (tenant) dapat bersama-sama menjalankan usahanya dan mengadakan interaksi yang dapat mendukung kelancaran berusaha.

 

Inkubator Bisnis Bandung mengungkapkan bahwa inkubator bisnis merupakan suatu lembaga/institusi yang berfungsi Memfasilitasi kesenjangan pengetahuan dan keahlian manajerial para pengelola koperasi dan perusahaan kecil, sehingga dapat menjalankan usahanya secara profesional. (Diktat IBB, 1998).

 

III.POLA INKUBATOR BISNIS

 

Terdapat tiga asumsi dasar dibentuknya inkubator bisnis (Raymond W. Smilor) yaitu:

 

1.Bahwa kita segera akan memasuki masa kewirausahaan (entrepreneurial era). Untuk itu diperlukan suatu upaya yang dapat membangkitkan bakat dan minat kewirausahaan.

 

2.Dalam lingkungan bisnis saat ini terjadi kompetisi yang sengit diantara para usahawan. Kompetisi ini memiliki kecenderungan yang terus meningkat, sehingga para usahawan dituntut untuk memiliki kemampuan yang cukup di dunia usaha agar dapat terus bertahan.

 

3.Dibutuhkan suatu lembaga baru yang mampu merubah taktik dan strategi pembangunan ekonomi. Yaitu suatu lembaga baru yang dapat membentuk suatu jaringan kerjasama antara dunia usaha, pemerintah, dan pihak-pihak akademik. Dengan kerjasama tersebut diharapkan dapat diambil langkah-langkah pengembangan ekonomi.

 

Konsep dasar dari pembentukan inkubator bisnis adalah berorientasi teknologi atau non teknologi, lokasi di daerah perkotaan ataupun di pedesaan, mencari untung ataupun tidak, milik masyarakat ataupun swasta, berdiri sendiri ataupun merupakan bagian dari suatu mata rantai tertentu semua itu ditujukan untuk meningkatkan bakat/jiwa kewirausahaan.

 

Dalam inkubator terdapat tiga jenis program yang dapat diterapkan oleh para pengusaha atau calon pengusaha. Pertama, inkubator teknis technology incubator, yaitu (1) pola pemberian keterampilan pengetahuan mengenai teknik produksi yang baik dari desain sampai finishing, (2) hal yang menyangkut aspek bisnis dan manajemen business incubator, dalam program ini peserta akan mendapatkan pengetahuan manajemen, finansial, dan strategi pemasaran produk dan (3) apa yang dinamakan regional development incubator, yaitu program pengembangan wilayah tertentu yang memang sudah mempunyai jenis usaha yang berkembang.

 

Inkubator bisnis berusaha untuk membantu para pengusaha dalam mengembangkan keahlian bisnis sehingga dapat berkembang di masyarakat dengan menyediakan pelayanan dan dukungan-dukungan yang membantu menyempurnakan bakat alami dan kemampuan mereka sehingga dapat mengembangkan potensinya.  Dengan demikian inkubator bisnis menjadi suatu mata rantai yang penting yang menghubungkan antara pengusaha terutama yang beorientasi teknologi (termasuk di dalamnya yang memiliki ide-ide baru) dengan lembaga-lembaga yang menawarkan jasa dan produk-produk mereka yang dibutuhkan dalam upaya pembinaan tersebut. Pada gambar berikut ini akan menunjukkan peran inkubator dalam pembangunan ekonomi.

Peran Inkubator

Gambar 1.Peran Inkubator dalam Pengembangan Ekonomi

 

Keberhasilan dalam pengembangan kewirausahaan ditandai dengan adanya sinergi yang baik antara bakat, teknologi (termasuk di dalamnya ide-ide baru), modal dan pengetahuan (know-how). Seperti yang ditunjukkan pada gambar  berikut ini:

Faktor Pendukung

Gambar 2.Faktor Pendukung Keberhasilan Suatu Pembinaan Kewirausahaan

 

Untuk itu maka inkubator bisnis mencoba untuk mengintegrasikan/ menyatukan faktor-faktor tersebut yaitu bakat teknologi, modal, dan pengetahuan kepada para tenantnya.  Hal ini berarti inkubator bisnis menjadi suatu media yang berupaya untuk menyatukan faktor-faktor yang dapat meningkatkan kesempatan bagi pengusaha yang ingin berhasil dalam mengembangkan usaha barunya. Dan inkubator juga dapat menyediakan suatu kerangka kerja yang memfokuskan pada keterikatan/keterpaduan antara faktor-faktor dalam proses kewirausahaan seperti bakat, teknologi, dan ide-ide baru, modal, dan pengetahuan dalam rangka mendirikan usaha baru.

 

Selain faktor-faktor tersebut di atas, terdapat berbagai faktor ekonomi dan sosial yang mendorong kegiatan kewirausahaan sehingga mampu memperkuat perkembangan ekonomi. Faktor-faktor tersebut berupa pembentukan modal (capital formation), memperbaiki hubungan dengan lembaga-lembaga terkait (changing institutional relationships), mendukung program-program pemerintah (support government programs), melakukan penilaian terhadap sifat-sifat intelektual (reassessment of intellectual property) dan melakukan pendekatan-pendekatan baru untuk menghasilkan suatu perubahan lingkungan yang lebih baik (innovative environment). Gambar berikut ini menunjukkan faktor-faktor pendukung proses kewirausahaan.

Faktor Pendorong

Gambar 3.Faktor-faktor Pendorong Proses Kewirausahaan

 

Selain itu suatu inkubator bisnis juga harus melakukan kerjasama dengan sumber-sumber yang dapat memenuhi kebutuhan akan faktor-faktor tersebut. Seperti melakukan kontak dengan lembaga-lembaga seperti universitas, pemerintah, sektor-sektor swasta, lembaga-lembaga swadaya masyarakat baik yang mencari keuntungan maupun yang tidak.

 

Inkubator bisnis dibentuk untuk membantu para pengusaha agar dapat meningkatkan kemampuan mereka dengan memanipulasi lingkungan, sehingga tercipta lingkungan yang kondusif bagi upaya tersebut. Komponen-komponen umum yang harus ada dalam sebuah inkubator bisnis adalah seleksi pengusaha yang potensial, menyediakan biaya sewa tempat yang murah untuk keperluan kantor dan laboratorium, pelayanan administrasi, akses ke perpustakaan dan fasilitas komputer, tenaga konsultan, tenaga kerja baik yang lulusan perguruan tinggi maupun para mahasiswa dengan biaya yang lebih murah, menciptakan kontak-kontak sosial dengan pihak perbankan dan pihak pemerintah, modal usaha dan teknologi. Usaha-usaha yang dilakukan oleh inkubator bisnis tersebut diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja, menciptakan kesempatan investasi bagi perguruan tinggi untuk memberi dukungan ilmu bagi pengusaha kecil, menambah pendapatan bagi pemerintah dari sektor pajak, mempercepat pemindahan teknologi baru dari pihak akademik ataupun pihak-pihak peneliti ke sektor industri, mengisi kesenjangan antara pihak-pihak yang memiliki modal dengan pihak-pihak pengusaha kecil yang membutuhkan modal dengan meningkatkan kemampuan dan bakat para pengusaha tersebut, serta menciptakan keberlangsungan perusahaan-perusahaan yang baru berdiri.  

 

Sependapat dengan Raymond, N. Hoedhiono Kadarisman juga berpendapat bahwa, keterlibatan pakar, baik dari kalangan ilmuwan, penelitian dan pengembangan, manajer profesional, keuangan serta pihak universitas dan laboratorium tekniknya dalam meningkatkan kemampuan profesional para pengusaha kecil dan menengah sangat besar artinya. Untuk itulah maka program pembinaan pengusaha kecil dengan pola inkubator bisnis berperan penting sebagai sarana inter-relasi antara sektor-sektor yang telah disebutkan.

 

Menurut kajian Bank Indonesia tahun 2006 terlihat bahwa gambaran umum inkubator bisnis di Indonesia, melaksanakan aktivitas inkubator bisnis sebagai berikut: :

 

1. Komitmen Pengembangan Inkubator Bisnis yang dituangkan dalam visi, misi dan tujuan Inkubator.

 

Sebagian besar (79%) Inkubator Bisnis yang diteliti mempunyai komitmen dalam pengelolaan inkubator yang dituangkan dalam visi dan misi tersendiri, sedangkan sisanya mengikuti visi dan misi lembaga induk yang menaunginya.

 

2. Kelembagaan yang mandiri

 

Sebagian besar Inkubator Bisnis di Indonesia tidak berdiri sendiri namun merupakan bagian dari perusahaan yang mendirikan atau menaunginya. Hal ini menyebabkan ketergantungan yang tinggi baik secara finansial maupun dalam pengambilan keputusan.

 

3. Sumber daya yang memadai dalam kuantitas maupun kualitas.

 

Sebagian besar Inkubator Bisnis di Indonesia belum memiliki tenaga manajer yang profesional dengan pengalaman bisnis yang memadai, tenaga pengelola yang ada jumlahnya relatif sedikit dan merangkap dengan tugas lain. Disamping itu turn over pegawai juga cukup tinggi.

 

4. Sumber pendanaan operasional yang cukup dan berkesinambungan

 

Sebagian besar Inkubator Bisnis di Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi pada program pemerintah yang bersifat jangka pendek. Selain itu karena melaksanakan program pemerintah, maka tenant belum diwajibkan membayar sewa atau fee sehingga Inkubator Bisnis mengalami kesulitan pendanaan operasional yang cukup dan berkesinambungan.

 

5. Sarana dan prasarana yang memadai

 

Secara umum sarana dan prasarana yang dimiliki Inkubator Bisnis di Indonesia masih belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pelaksanaan inkubasi.

 

6. Calon tenant.

 

Sebagian besar Inkubator Bisnis di Indonesia cenderung memilih calon tenant yang sudah memiliki usaha sehingga hanya membutuhkan pembinaan dan pengembangan usaha, dan dilakukan secara out wall.

 

7. Kriteria seleksi calon tenant.

 

Kriteria seleksi calon tenant yang dilakukan oleh Inkubator Bisnis di Indonesia bervariasi, antara lain harus memiliki modal awal, usaha yang sudah berjalan, memiliki prospek usaha yang jelas dan memiliki jiwa wirausaha. Namun tidak semua Inkubator Bisnis menerapkan kriteria tersebut secara ketat.

 

8. Inkubator harus memiliki program pelayanan yang utuh dan jelas dalam bentuk penyediaan sarana dan prasarana, training, konsultasi bisnis, dukungan teknologi dan pembiayaan.

 

9. Inkubator Bisnis di Indonesia belum memiliki program pelayanan secara utuh dan jelas karena sebagian besar Inkubator Bisnis hanya membina tenant secara outwall. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya dukungan dan kapasitas sarana dan prasarana, SDM dan dana yang memadai.

 

Belum optimalnya pelaksanaan Inkubator Bisnis di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :

 

1. Kondisi perekonomian nasional yang lebih memprioritaskan pemeliharaan stabilitas ekonomi daripada mendorong pertumbuhan industri. Sehingga tidak terdapat program pemerintah yang secara khusus mendorong pendirian inkubator.

 

2.Belum adanya kebijakan yang mengatur secara khusus mengenai Inkubator Bisnis.

 

3. Kurangnya pemahaman mengenai arti pentingnya peran Inkubator Bisnis dalam menciptakan lapangan kerja baru dan pertumbuhan dunia usaha.

 

4. Sumber dana yang terbatas dan bersifat jangka pendek.

 

5. Belum memiliki SDM yang profesional dan full time dalam mengelola Inkubator Bisnis.

 

6. Terbatasnya fasilitas fisik (sarana dan prasarana) dalam pelaksanaan fungsi Inkubator terutama untuk inwall tenant.

 

 

 

IV.FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN INKUBATOR BISNIS

 

 

 

Dalam prakteknya inkubator bisnis memiliki tujuan, struktur organisasi, kebijakan operasional dan lembaga-lembaga sebagai mitra kerjasama yang berbeda-beda. Namun terdapat sejumlah faktor-faktor yang dapat menentukan keberhasilan sebuah inkubator bisnis. Dan faktor-faktor tersebut dapat berlaku di semua inkubator bisnis. Faktor-faktor tersebut adalah:

 

1.Sumberdaya manusia yang ahli dalam kewirausahaan 

 

2.Kaitan dengan lembaga keuangan dan permodalan

 

3.Bentuk bantuan keuangan

 

4.Dukungan masyarakat

 

5.Jaringan usaha

 

6.Pendidikan kewirausahaan

 

7.Penetapan keberhasilan

 

8.Proses seleksi calon wirausaha/ tenant

 

9.Jejaring dengan lembaga terkait

 

10.Adanya kebijakan dan tatalaksana yang jelas.

 

Gambar berikut ini menunjukkan sepuluh faktor sukses pengembangan inkubator bisnis.

Kebijakan dan tatalaksana yang jelasSDM (ahli kewira-usahaan & manajemen bisnisKaitan dengan lembaga keuangan dan permodalan   

 

  

 

Kaitannya dengan lembaga pendidikanBentuk bantuan keuangan   

 

 

 

INKUBATOR BISNIS

 

  

 

Proses seleksi calon wirausaha/ tenantHubungan kemasyara-katan   

 

  

 

Penetapan keberhasilanPendidikan kewira-usahaanJaringan dg lembaga terkait 

 

 

Sepuluh Faktor Sukses

Gambar 4.  Sepuluh Faktor Sukses Pengembangan Inkubator Bisnis

 

 

 

Keterangan dari gambar di atas dapat diterangkan sebagai berikut :

 

Ahli Kewirausahaan di setiap lokasi

 

Usaha kecil yang baru muncul memerlukan keahlian bisnis. Inkubator bisnis sangat berperan dalam upaya menyediakan keahlian bisnis bagi para tenantnya (usaha kecil)

 

Kaitan dengan lembaga keuangan dan permodalan

 

Modal merupakan urat nadi bagi perusahaan-perusahaan yang baru berdiri. Untuk itu akses ke lembaga keuangan mutlak diperlukan. baik akses ke individu, lembaga, dan agen-agen yang menyediakan pinjaman dan dana bantuan. Di samping itu mereka pun harus diberikan bantuan untuk dapat memahami berbagai alternatif keuangan yang ditawarkan. Dengan demikian mereka memiliki kemampuan untuk menentukan keuntungan dan kerugian yang mungkin terjadi dari setiap alternatif tersebut. dan pada akhirnya mereka dapat memilih mana yang terbaik bagi perkembangan usaha mereka.

 

Bentuk bantuan keuangan

 

Salah satu bentuk penyediaan fasilitas permodalan bagi para tenant adalah bantuan dalam bidang keuangan melalui berbagai pelayanan yang berupa dukungan, termasuk di dalamnya pelayanan dalam bidang kesekretariatan, administrasi, dan fasilitas-fasilitas pendukung.

 

Dukungan masyarakat

 

Dalam mengupayakan pendanaan, perbaikan moral, dan keterkaitan dengan publik suatu inkubator harus mendapat dukungan dari masyarakat. enggan demikian sesungguhnya dukungan dari masyarakat ini memainkan peranan yang penting bagi sebuah inkubator bisnis. Hal tersebut karena inkubator itu sendiri menggambarkan usaha-usaha masyarakat seperti menciptakan diversifikasi ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan mengungkit bakat kewirausahaan bagi kelangsungan pembangunan ekonomi jangka panjang.

 

Dukungan masyarakat itu berasal dari individu, pemerintah, lembaga-lembaga industri, universitas, dan lain-lain. Segala bantuan yang diberikan semata-mata diarahkan bagi kepentingan peningkatan jiwa kewirausahaan para tenant.

 

Jaringan usaha

 

Kewirausahaan merupakan suatu proses yang dinamis. bagi seorang pengusaha agar memiliki kesempatan untuk lebih berhasil dalam dunia bisnis maka diperlukan adanya hubungan yang baik antara mereka baik secara orang perorangan maupun dengan lembaga. Untuk itu maka kewajiban sebuah inkubator bisnis adalah menciptakan kondisi sehingga memudahkan para tenantnya untuk membentuk suatu jaringan kerjasama tersebut. Bagan berikut ini menunjukkan jaringan kewirausahaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jaringan Inkubator

Gambar 5.  Jaringan Inkubator Bisnis

 

 

 

Pendidikan Kewirausahaan

 

Seorang pengusaha untuk dapat mencapai keberhasilan di dunia bisnis harus memiliki cukup pengetahuan dan keterampilan di sektor bisnis.

 

Berdasarkan hal tersebut suatu inkubator bisnis harus memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada para tenantnya. Pemberian keterampilan dan pengetahuan ini sangat membantu dalam menciptakan kemandirian para tenant terutama sekali ketika mereka harus meninggalkan inkubator bisnis.

 

Pemberian pengetahuan dan keterampilan ini dapat dilakukan dengan cara formal maupun informal ataupun dilakukan dengan mengadakan interaksi kelompok-kelompok kecil.  Dengan demikian tercipta kesempatan untuk saling bertemu dan bertukar pikiran serta pengalaman diantara para tenant.  Upaya ini akan sangat membantu dalam penyelesaian masalah terutama bagi mereka yang mengalami masalah yang sama.

 

G. Kriteria Keberhasilan

 

Menerapkan persepsi keberhasilan bagi setiap inkubator penting artinya, karena dengan memenuhi persepsi ini maka dapat ditentukan keberhasilan suatu inkubator.  Umumnya kriteria keberhasilan tersebut adalah :

 

a.Fasilitas yang terbaru dan menarik

 

b.Melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga kunci (yang paling berperan) baik pemerintah maupun swasta.

 

c.Memiliki manager-manager yang berpengalaman 

 

d.Mempunyai dewan direktur

 

e.Memiliki dewan penasehat

 

f.Terdapat sekelompok tenant yang memiliki komitment untuk mendirikan perusahaan baru. 

 

g.Memiliki tenant yang berhasil

 

Inkubator yang telah dinyatakan berhasil akan mendapatkan kemudahan dalam menarik sumber daya, memiliki lebih banyak kekuatan dalam membantu perusahaan-perusahaan yang baru berdiri, dan sangat membantu tenant dalam membangun kepercayaan pihak luar terhadap perusahaannya.

 

H.Proses Seleksi Calon Wirausaha

 

Agar dapat menghasilkan pengusaha-pengusaha yang tangguh dan mandiri maka suatu inkubator harus melakukan proses seleksi bagi para tenannya.  Adapun kriteria yang digunakan dalam proses seleksi tersebut adalah :

 

1).Sangat potensial untuk berkembang

 

2).Kemampuan untuk menciptakan pekerjaan

 

3).Memfokuskan pada satu jenis usaha

 

4).Memiliki kemampuan untuk membayar biaya-biaya operasional

 

5).Memiliki rencana bisnis yang jelas

 

6).Memiliki analisa pasar

 

7).Memiliki dana tunai yang cukup.

 

I.Keterkaitan dengan Lembaga Pendidikan

 

Pada umumnya inkubator terkait dengan pihak universitas, baik secara formal maupun informal.  Dalam hubungan secara formal inkubator bisnis merupakan bagian dari universitas tersebut.  Dengan demikian inkubator bisnis dapat mempergunakan semua fasilitas yang ada dan wajib mematuhi segala kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pihak universitas.  Sementara dalam hubungan informal inkubator bisnis dapat menyewa suatu ruangan di sekitar universitas dan mempunyai kebebasan penuh dalam menjalankan misinya dan dalam memutuskan bentuk kerjasama dengan pihak universitas.

 

Adanya keterkaitan dengan pihak universitas dimaksudkan untuk menciptakan keuntungan bagi kedua belah pihak.  Pihak universitas memiliki wadah untuk menyalurkan hasil-hasil penelitiannya.  Sedangkan pihak pengusaha kecil mendapatkan pengetahuan dan teknologi baru yang dapat meningkatkan kemampuan usahanya.

 

J.  Penetapan Kebijakan dan tatalaksana yang jelas

 

Sebuah inkubator bisnis harus menetapkan kebijakan dan prosedur program yang akan dilaksanakan dengan jelas kepada para tenantnya.  Sehingga para tenant dapat memahami apa yang diharapkan pihak inkubator dari mereka, apa yang akan mereka peroleh dari pihak inkubator, dan apa saja yang akan dievaluasi oleh pihak inkubator.

 

Agar masing-masing pihak dapat memahami tugas-tugas mereka, maka sangat diperlukan adanya komunikasi yang terbuka tersebut dapat memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahpahaman yang pada akhirnya hanya akan menghambat proses pencapaian tujuan.  Kejelasan akan hal dan kewajiban masing-masing pihak terhadap prosedur program menyebabkan harapan dan tujuan kedua belah pihak akan mudah direalisasikan.

 

 

 

V.PEMBINAAN DENGAN MODEL INKUBATOR BISNIS

 

 

 

Usaha kecil memiliki potensi yang sangat baik untuk dapat berperan aktif dalam memperkuat perekonomian nasional, namun tidak semua usaha kecil dapat menunjukkan potensinya.  Hal ini disebabkan oleh keterbatasan-keterbatasan dan masalah-masalah yang harus dihadapi oleh usaha kecil.  Masalah-masalah itu mencakup masalah internal maupun eksternal.  Masalah internal seperti keterbatasan sumber daya manusia, kurangnya keterampilan, keterbatasan modal dan kesalahan dalam memilih bidang usaha.  Masalah eksternal adalah iklim usaha yang belum kondusif bagi pengembangan usaha kecil.

 

Untuk dapat membantu pengusaha kecil keluar dari permasalahannya maka perlu dilakukan suatu upaya pembinaan.  Salah satunya adalah pembinaan dengan pola inkubator bisnis.  Pembinaan dengan pola ini menghimpun sejumlah calon pengusaha yang lulus seleksi kemudian ditempatkan di suatu tempat dengan diberikan sejumlah fasilitas, baik berupa perlengkapan maupun data dan informasi bisnis yang diperlukan.  Dengan demikian diharapkan para pengusaha kecil tersebut akan mengalami pertumbuhan yang baik dan selanjutnya dengan bekal yang mereka peroleh tersebut, mereka dapat meninggalkan inkubator.

 

Memperhatikan penjelasan di atas tampak bahwa pembinaan usaha kecil dengan pola inkubator ini mengarah pada pengembangan potensi usaha kecil.   Dengan upaya tersebut diharapkan pada pengusaha kecil memiliki kemampuan untuk menjalankan peran mereka di masyarakat.

 

Pengembangan potensi merupakan salah satu tujuan dari pekerjaan sosial.  Pekerjaan sosial itu sendiri ialah suatu bidang keahlian yang mempunyai tanggung jawab untuk memperbaiki dan atau mengembangkan interaksi diantara orang dengan lingkungan sosial sehingga orang ini memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas kehidupan mereka, mengatasi kesulitan-kesulitan, serta mewujudkan Aspirasi-aspirasi dan nilai-nilai mereka.

 

Atas dasar pengertian ini, maka pekerjaan sosial mempunyai tujuan untuk:

 

1.Meningkatkan kemampuan orang untuk menghadapi tugas-tugas kehidupan dan kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.

 

2.Mengkaitkan orang dengan sistem yang dapat menyediakan sumber-sumber, pelayanan-pelayanan dan kesempatan-kesempatan yang dibutuhkannya.

 

3.Meningkatkan kemampuan pelaksanaan sistem tersebut secara efektif dan berperikemanusiaan.

 

4.Memberikan sumbangan bagi perubahan, perbaikan dan perkembangan kebijakan serta perundang undangan sosial.

 

 

 

Dalam menjalankan praktek pekerjaan sosial terdapat beberapa metode yang ada di dalam profesi ini :

 

·Bimbingan Sosial Perseorangan (Social Case Work)

 

·Bimbingan Sosial Kelompok (Social Group Work)

 

·Bimbingan Sosial Masyarakat (Community Organization/Community Development).

 

Dapat dirumuskan bahwa penentu keberhasilan suatu lembaga pelayanan sosial dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal.  Faktor-faktor internal adalah sebagai berikut :

 

a. Administrasi

 

Selain strategi, hal lain yang perlu diperhatikan oleh suatu lembaga pelayanan sosial dalam memberikan pelayanan sosial adalah administrasi pekerjaan sosial.  Administrasi pekerjaan sosial didefinisikan secara umum sebagai usaha kerjasama yang terkoordinasi dan melibatkan semua anggota organisasi dalam proses perumusan tujuan, perencanaan, implementasi, perubahan dan evaluasi.

 

Pentingnya administrasi pekerjaan sosial di Pusat Inkubator Bisnis Ikopin karena lembaga ini merupakan organisasi yang produk utamanya adalah pelayanan.  Dimana proses produksinya sangat bergantung pada kinerja manusia.  Dan program-program pelayanan dirancang dan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan klien.

 

Tugas-tugas yang harus dilakukan oleh seorang administrator dalam lembaga pelayanan sosial menurut Patty (dalam Edi Suharto) adalah sebagai berikut :

 

1)Melakukan Perencanaan dan Pengembangan Program (planning and developing the program).  Petugas administrator harus mampu merencanakan dan mengembangkan program organisasi.  Rencana program ini pada dasarnya merupakan model tindakan yang meliputi hasil yang ingin dicapai, pelayanan yang ingin diberikan, klien yang akan dilayani, serta sumber-sumber yang dibutuhkan.

 

2)Memperoleh Sumber-sumber dan Dukungan Finansial (acquiring financial resources and support).  Petugas administrator harus dapat memperoleh masukan yang diperlukan untuk mendukung program dan pelayanan.  Tugas tersebut adalah dalam upaya memperoleh sumber dan dukungan finansial yang berasal dari berbagai pihak dan lembaga yang memungkinkan.

 

3)Merancang Struktur dan Proses Organisasi (designing organizational structures and processes).  Struktur organisasi merupakan spesifikasi formal yang mencerminkan otoritas, tanggung jawab, dan harapan.  Petugas administrator baru mampu merancang struktur dan proses Keorganisasian, baik yang bersifat rutin maupun kejadian-kejadian kontemporer.

 

4)Mengembangkan dan Memelihara Kemampuan Staff (developing and maintaining staff capability).  Kualitas pelayanan yang diberikan oleh suatu organisasi pelayanan sosial sangat tergantung pada kemampuan intelektual, keterampilan.  Dan komitment para staf.  Petugas administrator harus mampu mengembangkan dan memelihara kemampuan dan kualitas staf.  Misalnya melalui penetapan kebijakan dan tujuan organisasi, komunikasi efektif, pemberian kesempatan kepada pekerja untuk mendapatkan pendidikan lanjutan, penyelenggaraan evaluasi kinerja, dan rotasi kerja.

 

5)Menilai Program-program Lembaga (assessing agency programs).  Penilaian program lembaga dapat berbentuk macam-macam.  Misalnya, penilaian terhadap upaya-upaya program, penilaian terhadap efisiensi, penilaian terhadap efektifitas.  Untuk itu para petugas administrator harus menguasai berbagai metode evaluasi dan teknik-teknik analisis program.

 

b. Sumber

 

Pemilikan dan pengelolaan sumber atau sarana prasarana organisasi.  Apakah lembaga pelayanan sosial tersebut memiliki tempat, fasilitas, dana yang memadai untuk menjalankan roda organisasi.  Dalam perspektif pekerjaan sosial strategi pendayagunaan sumber-sumber terfokus pada tiga orientasi dasar perubahan yaitu :

 

 

 

 

 

1)Orientasi internal

 

Meningkatkan kualitas sumber internal agar mampu menggali dan menggunakan potensi yang ada pada dirinya, serta mampu menjangkau dan menggunakan sumber yang ada di luar dirinya.  Strategi pemungkinan, menempatkan orang agar dapat menggunakan kemampuan, keahlian mereka; penguatan, memperkuat kemandirian dalam memecahkan masalah; penyokongan, memberikan bimbingan agar orang mampu menjalankan peranan dan tugas-tugas kehidupannya.

 

2)Orientasi eksternal

 

Meningkatkan kualitas sumber eksternal agar mampu menjangkau dan memberikan pelayanan secara optimal kepada pihak yang membutuhkan.  Strateginya; peningkatan, peningkatan kapasitas dan kemampuan sumber dalam memberikan pelayanan; pengorganisasian, mengatur manajemen pelayanan; perluasan, memperluas jangkauan, jaringan, dan distribusi pelayanan.

 

3)Orientasi Internal-Eksternal 

 

Meningkatkan kualitas sumber internal dan eksternal agar terjalin interaksi dan integrasi yang harmonis.  Strateginya: Negosiasi, yaitu proses formal mengkaitkan orang dengan sumber.  Tawar menawar merupakan proses untuk menentukan ketidaksetujuan antara dua pihak secara tidak formal.

 

Proses pendayagunaan sumber-sumber ini dapat dilakukan melalui empat langkah berikut ini:

 

1)Analisis kebutuhan, mengumpulkan data dan informasi mengenai kebutuhan klien.

 

2)Indentifikasi Sumber, menemukan dan menentukan sumber yang sesuai dengan kebutuhan klien.

 

3)Mobilisasi sumber, menggali sumber dan atau menghubungkan sumber dengan klien.

 

Selanjutnya memanfaatkan sumber tersebut dalam proses pemenuhan kebutuhan klien.

 

4)Manajemen sumber,, mengatur pengalokasian dan penggunaan sumber agar proses pemenuhan kebutuhan klien berhasil secara optimal.

 

c.Program

 

Kemampuan organisasi dalam merumuskan misi dan tujuan organisasi, program organisasi dan dilihat pula kepuasan para klien dalam menerima program yang diberikan.

 

d.Sumber Daya Manusia

 

Dalam hal ini yang perlu diperhatikan antara lain, jumlah pegawai dan klien, bagaimana pendidikan dan pengalaman mereka, sedangkan faktor-faktor eksternal adalah kemampuan untuk menjalin kerjasama dengan pihak-pihak luar baik pemerintah maupun lembaga lain, kemampuan memperoleh dukungan dari pihak luar serta kemampuan menyesuaikan dengan perubahan dan situasi sosial lingkungan. 

 

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan untuk melakukan suatu proses kerjasama antara Pusat Inkubator Bisnis Ikopin pihak-pihak lain termasuk dengan para tenant sendiri harus ada terdapat aturan permainan yang disebut kontrak.  Kontrak adalah suatu perumusan dan penyusunan persetujuan kerja informal yang terdapat dalam semua jenis relasi menjadi suatu bentuk yang dapat memperlancar usaha perubahan berencana.

 

Dalam usaha membantu semua pihak untuk mengambil keputusan apakah mereka Menyetujui persyaratan-persyaratan kontrak tentang apa yang ingin dicapai dalam usaha-usaha perubahan, maka harus memberikan penjelasan tentang

 

1.Ruang lingkup dan jenis tujuan yang akan dicapai

 

2. Tugas yang dilakukan oleh setiap pihak

 

3.Pilihan yang terdapat dalam prosedur pelaksanaan

 

4.Apa yang tidak atau tidak dapat dilakukan karena keterbatasan pengetahuan, keterampilan kurangnya sumber yang dimiliki.

 

e. Bimbingan Sosial Kelompok

 

Bimbingan sosial kelompok merupakan suatu metode dalam pekerjaan sosial yang melaksanakan fungsi pemberian bantuan khususnya kepada individu-individu di dalam kelompok-kelompok.  Tujuannya adalah untuk menciptakan kehidupan kelompok yang baik, sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kelompok yang dihadapi (Budhi W, 1983:8).

 

Prinsip-prinsip dasar bimbingan kelompok menurut H.B. Trecker yang dimuat dalam Social Group Work ialah,

 

1).Prinsip pembentukan kelompok yang terencana.

 

Kelompok merupakan kesatuan tempat dimana para individu memperoleh pelayanan untuk mengembangkan pribadinya.  Dengan demikian badan sosial akan memberikan kemungkinan untuk perkembangan individu menuju kearah yang positif.  Dan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sebagaimana yang diinginkannya.

 

2).Prinsip tujuan khusus.

 

Adanya tujuan khusus untuk perkembangan individu dan kelompok yang dirumuskan oleh Pembimbing kelompok, agar terdapat keserasian anatara harapan dan kemampuan kelompok dengan fungsi badan siosial yang menyelenggarakan usaha pelayanan tersebut.

 

3).Prinsip hubungan petugas kelompok.

 

Harus ada hubungan yang bertujuan diantara pembimbing kelompok dengan anggota-anggota kelompok atas dasar keyakinan bahwa Pembimbing akan menerima para anggota kelompok sebagaimana adanya.

 

4).Prinsip individualisasi yang terus menerus

 

Setiap anggota kelompok itu mempergunakan pengalaman kelompoknya dengan bermacam-macam cara.  Oleh karena itu tiap individu dalam kelompok harus selalu mendapat perhatian secara individual dan terus-menerus dari Pembimbing kelompok.

 

5).Prinsip interaksi kelompok yang terpimpin.

 

Sumber kekuatan yang utama untuk menggerakkan kelompok dan mempengaruhi individu anggota kelompok untuk melakukan perubahan adalah interaksi yang saling mempengaruhi diantara para anggotanya.  Maka pembimbing kelompok berusaha melibatkan diri dengan cara sebaik-baiknya sehingga dapat saling mempengaruhi.

 

6).Prinsip demokratis dalam menentukan keinginan kelompok sendiri.

 

Kelompok harus dibantu dalam mengambil keputusan-keputusannya sendiri dan menentukan kegiatan-kegiatan yang diinginkannya.

 

7).Prinsip pengalaman program yang progresif.

 

Sebaiknya program-program dalam kelompok dimulai sesuai dengan minat anggota kebutuhan, pengalaman dan kepentingan serta harus diusahakan guna memajukan perkembangan kelompok.

 

8).Prinsip penggunaan sumber

 

Sumber-sumber yang ada dalam masyarakat maupun yang ada di sekitar badan sosial/ lembaga sosial harus dapat dipergunakan untuk memperkaya pengalaman kelompok.

 

f. Prinsip Penilaian

 

Penilaian yang dilakukan secara terus menerus terhadap proses ataupun hasil program adalah penting.  Usaha-usaha untuk membantu kelompok yang perlu diperhatikan oleh Pembimbing kelompok.  Adapun upaya-upaya untuk membantu ialah :

 

1.Pemberian saran

 

Mengusulkan ide-ide baru atau cara-cara baru dalam menanggapi masalah-masalah yang dialami oleh kelompok.  Menyarankan diadakannya aktivitas-aktivitas baru.

 

2. Pencarian informasi.

 

Mencari fakta-fakta yang relevan atau informasi yang benar

 

3.Pemberian informasi.

 

Memberikan fakta-fakta yang relevan atau informasi yang benar, yaitu yang berhubungan dengan pengalaman pribadi.

 

4. Pemberian pendapat.

 

Mengemukakan pendapat yang berguna bagi apa yang sedang dibicarakan oleh kelompok

 

5. Penjelasan.

 

Meneliti pengertian-pengertian tentang hal-hal yang sedang dibicarakan oleh kelompok 

 

6. Pengembangan.

 

Mengembangkan hal-hal yang pernah dibahas dan dialami kelompok.

 

7.  Koordinasi.

 

Menunjukkan relasi di antara berbagai jenis pendapat dan berusaha untuk mempersatukan pendapat-pendapat dan saran-saran.

 

8.  Ringkasan.

 

Meninjau kembali isi diskusi-diskusi yang telah dilakukan di masa lampau.

 

Penggunaan teknik-teknik tertentu dalam bimbingan sosial kelompok, akan banyak memberikan manfaat bagi perkembangan anggota kelompok dan kelompok itu sendiri.  Teknik-teknik yang dapat diterapkan dalam pembinaan ini antara lain adalah:

 

1.Role playing

 

Yaitu suatu teknik mengajar dimana peserta latihan memisahkan diri mengerjakan atau melaksanakan suatu pekerjaan sesungguhnya atau dalam masalah-masalah buatan.

 

2.Diskusi

 

Yaitu pertukaran pendapat, perasaan, pengalaman antara dua orang atau lebih tentang suatu topik yang dibutuhkan. dengan demikian akan melibatkan anggota kelompok untuk berpartisipasi aktif dalam rangka mencapai tujuan tertentu.

 

3.Studi Kasus

 

Yaitu kumpulan informasi-informasi sedemikian rupa sehingga memberikan suatu gambaran yang jelas tentang suatu keadaan. Teknik ini umumnya dipakai dalam latihan di mana para peserta dihadapkan pada kemampuan analitis dan pemilihan alternatif-alternatif dari suatu masalah tertentu.

 

4.  Buzz Session

 

Yaitu satu cara diskusi kelompok yang memperbincangkan sesuatu masalah dengan membagi kelompok menjadi kelompok-kelompok kecil.