MAMFAAT BERKOPERASI

 

Oleh : Dandan Irawan, SE, M.Sc (Direktur Pusat Inkubator Bisnis Ikopin)

I.          MAKNA KERJASAMA

Apabila cerita tentang Robinson Cruso nyata adanya, maka dapat dipastikan ia adalah orang yang dapat hidup tanpa membutuhkan kerjasama dengan orang lain.  Robinson Crusoe adalah orang terdampar di suatu pulau dari pelayaran ke tanah asing, lalu melakukan perjuangan hidup.  Ia bisa beradaptasi dengan sempurna, dengan hidup sendiri dia bisa swasembada misalnya bikin tempat tinggal sendiri, bercocok tanam sehingga makan dari kebun sendiri.  Tetapi dalam keseharian peristiwa itu merupakan kejadian yang sangat langka dan ‘aneh’, sebab pada dasarnya manusia tidak dapat hidup tanpa ada interaksi dengan orang lain.

Kerjasama adalah sebuah kata yang sangat sering kita dengar dan sangat akrab di telinga kita.  Kata kerjasama adalah gabungan dari kata kerja dan sama, yang berarti bekerja secara bersama-sama dalam mengerjakan sesuatu dan mencapai suatu tujuan. Kerjasama dibentuk karena adanya dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk mencapai suatu keinginan atau tujuan yang mereka ingin capai.

            Dalam tatanan kehidupan bermasyarakat Indonesia yang memiliki tradisi ketimuran yang cukup kental, dengan mengedepankan nilai saling menghormati sebagai unsur dasar hidup bermasyarakat, kata kerjasama menjadi sebuah kata yang ampuh dalam mewujudkan tujuan yang telah direncanakan. Kata kerjasama  diumpamakan sebagai  sebuah fatamorgana, terkadang kerjasama itu hanya sebagai bagian yang remang-remang antara ada dan tiada, bila dilihat dari kejauhan makna kerjasama sangat jelas di mata dan pikiran kita, namun setelah kita mendekati perlahan-lahan kerjasama itu semakin menjauh, dan mungkin menghilang. Hal tersebut tergantung penempatan nilai saling menghormati dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.

Pada dasarnya pengertian kerjasama dapatdilihat dalam kata bahasa Inggeris yaitu “Co-operation” atau dalam bahasa Belanda ialah “Co-operatie”, yang intinya ialah adanya kebutuhan, di mana satu orang akan membutuhkan orang yang lain, maka menimbulkan suatu kerjasama yang dengan sendirinya muncul atau lahir karena ada suatu yang tidakl bisa dikerjakan sendiri.

            Di Indonesia bentuk kerjasama pada awalnya lahir karena suatu kebiasaan atau adat isitadat, dalam hal ini bentuk kerjasama muncul karena beberapa faktor, diantaranya :

a.    Faktor Kepentingan Bersama.

Sesuatu kegiatan yang penting bagi setaiap orang, apapun kegiatan tersebut akan mendorong manusia untuk melakukan suatu kerjasama dengan suatu keyakinan bahwa kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi kepentingan bersama.

b.    Faktor Kerelaan dan Tanpa Paksaan.

Munculnya suatu kerjasama akan dilandasi oleh kerelaan dari masing-masing individu dari kelompok yang melakukan kerjasama, sebab jika seseorang melakukan kerjasama dengan suatu ketidak-relaan atau paksaan, maka yang muncul adalah rasa ketidakyakinan diri, untuk melakukan kerjasama secara sungguh-sungguh.  Seseorang melakukan kerjasama, maka ia harus siap mendapat konsekuensi untuk menjadi pemimpin atau yang dipimpin.

c.    Faktor Kesamaan Tujuan.

Kerjasama muncul karena adanya suatu kesamaan dalam suatu tujuan, dan kesamaan tujuan terbut dimunculkan oleh orang-orang yang ada dalam kelompok tersebut.  Dengan adanya Tujuan yang telah ditetapkan bersama, maka menjadi suatu ikatan bagi  keseluruhan orang yang terlibat di dalam membuat tujuan tersebut

            Menurut J.K. Golbraith (dalam buku “American Capitalism”), kerjasama muncul sebagai reaksi atas kehidupan modern atau disebut juga “counterveilling power” atau kekuatan pengimbang atau semacam kekuatan yang ditimbulkan pihak ke dua akibat tekanan pihak pertama.  Kekuatan tersebut  menghendaki adanya unsur, seperti kerjasama sosial akan harga diri para anggotanya (disebut juga individualistis) dan solidaritas.

            Pada dasarnya segala bentuk kerjasama itu bertujuan untuk mempertahakan diri terhadap tindakan pihak luar dengan menarik manfaat yang sebesar-besarnya dalam suasana hidup bersama.  Bahkan dalam berbagai hal kerjsamaa yang baik, di mana dapat menghimpun potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing orang dalam suatu kelompok kerjasama tersebut, dapat memunculkan suatu sinergi yang sangat besa , yang pada ahirnya menjadi kekuatan yang dapat memunculkan suatu kepercayaan diri dalam melaksanakan kehidupan yang normatif.

            Untuk itu dalam menjalin kerjasama perlu diperhatikan beberapa hal,

a.    Saling terbuka, dalam sebuah tatanan kerjasama yang baik harus ada komunikasi yang komunikatif antara dua orang yang bekerjasama atau lebih. Oleh karena itu sebelum terjadinya sebuah tindakan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang sedang dihadapi, setiap orang yang terlibat dalam tatanan kerjasama harus mengemukakan pendapatnya, dengan pengertian maunya apa dan mau dibawa kemana permasalahan itu nanti dan harus adanya kejelasan pembagian tugas yang harus diemban oleh setiap orang yang terlibat dalam kerjasama tersebut. Agar prinsip ini selalu terjaga maka prinsip ini harus selalu dipertahankan, selama proses penyelesaian suatu permasalahan, karena permasalahan akan muncul pada saat suatu bentuk kerjasama sedang terlaksana.

 

b.    Saling mengerti, kerjasama berarti dua orang atau lebih bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan, dalam proses tersebut, tentu ada  salah satu yang melakukan kesalahan dalam menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi. Salah seorang yang terlibat dalam menyelesaikan masalah tersebut harus memahami, bahwa dia telah melakukan suatu bentuk upaya dalam menyelesaikan permasalahan, jangan sampai terlintas dalam benaknya buruk sangka yang mengakibatkan ketidak percayaan dan kegagalan kerjasama. Sebaliknya orang yang telah melakukan kesalahan harus cepat sadar, bahwa dia masih dibutuhkan oleh orang lain.

 

c.    Saling menghargai, bagian ini merupakan bagian yang sangat-sangat urgen dalam setiap bentuk aktivitas sehari-hari manusia. Dalam sebuah penelitian, mengatakan bahwa sebuah ucapan yang baik terhadap orang lain yang terlibat dalam proses kerjasama, sangat bernilai untuk menumbuhkan semangat baru yang dapat menghilangkan kejemuan, kekesalan, dan kekecewaan  terhadap sebuah permasalahan .

            Untuk memahami kerjasama, maka perlu dipahami orientasi kerjasama.  Orientasi kerjasama dapat dimunculkan pada 2 hal yaitu :

 

a.    Kerjasama yang bersifat non profit oriented dan

b.    Kerjasama yang bersifat profit oriented.

            Kerjasama dengan sifat non profit orineted akan terlaksana sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dan bentuk kegiatanya tidak didasarkan atas perhitungan untung rugi, tetapi lebih mengarah pada kepentingan bersama selaku manusia atau aktualisasi diri, sehingga modal utama kerjasama ini ialah kemampuan diri dari masing-masing individu dalam kelompok kerjasama tersebut.;  Sedangkan kerjasama yang bersifat profit oriented lebih mengarah pada bentuk kerjasama untuk memperoleh keuntungan ang sebesar-besarnya, sehingga dalam hal ini yang berkepentingan ialah banyaknya modal atau permodalan yang dimiliki oleh masing-masing individu dalam kelompok kerjasama tersebut, sehingga dapat memunculkan dominasi orang yang modalnya banyak terhadap orang yang modalnya sedikit.  Apa yang disebutkan di atas ialah wujud kerjasama dalam sudut non ekonomi bersifat “non profit oriented” sedangkan dipandang dari sudut ekonomi maka kerjasama bersifat “profit oriented” atau kerjasama dalam modal atau permodalan.  Kerjasama ekonomi pada akhirnya akan melakukan badan-badan usaha yang tujuan utamanya memupuk modal dan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, sedangkan kerjasama non ekonomi akan membentuk badan usaha yang tidak semata-mata dilakukan untuk mencari keuangan (walaupun sebenarnya keuntungan tersebut diharapkan sampai dengan batas-batas tertentu yang disepakati bersama oleh para anggotanya) tetapi lebih diupayakan guna melayani/memenuhi kebutuhan para anggotanya.

II.      ALASAN RASIONAL BERKOPERASI

Sering muncul pertanyaan-perrtanyaan dari orang yang belum memahami koperasi, antara lain ialah mengapa harus bergabung dengan badan usaha koperasi? Apa bedanya dengan badan usaha lain seperti CV, PD atau bahkan PT? Apa manfaat yang akan diterima bila seseorang harus bergabung dengan organisasi  koperasi?.  Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan manusiawi, ibarat orang akan memilih sesuatu, maka banyak sekali faktor yang harus dipertimbangkan.

Hal yang harus diungkapkan ialah bahwa jika seseorang akan memilih sesuatu, maka keputusan yang akan diambil harus yang paling rasional.  Adapun ketika seseorang menyatakan diri bergabung dengan koperasi, maka yang utama yang harus dirasakan ialah adanya manfaat atau benefit.  Apakah berkoperasi akan menambah manfaat (benefit) tertentu.yang dirasakan bermanfaat bagi dirinya.   Koperasi harus menjadi salah satu alternatif badan usaha yang terbaik dibandingkan dengan badan usaha lainnya.  Jika hal tersebut, tidak terjadi, maka bukan suatu keharusan seseorang bergabung menjadi anggota koperasi.

Permasalahannya ialah seberapa besar manfaat berkoperasi itu? Hal ini membutuhkan jawaban yang tegas dan meyakinkan, bahwa ketika individu menjadi anggota, maka akan memperol;eh "manfaat" atau faedah yang lebih dibandingkan tidak menjadi anggota koperasi, terutama dari sisi peningkatan kualitas ekonomi rumah tangga dan ekonomi perusahaan. 

Dalam hal ini manfaat diartikan sebagai nilai subyektif dari suatu alternatif yang terbuka bagi seseorang. Dalam hal ini "value" atau nilai mempertunjukkan kapasitas potensial dari suatu objek atau aksi untuk memuaskan kebutuhan manusia. Kebutuhan ini dapat dipandang dari sudut ekonomi dan non­ ekonomi.

Pendapat nyata dari kebutuhan ini,  dituangkan oleh Maslow dalam Five Hierarchy of Needs, yaitu :

a.   Kebutuhan fisiologis 

b.   Kebutuhan akan keamanan 

c.   Kebutuhan sosial/kebutuhan cinta kasih

d.   d. Kebutuhan akan penghargaan

e.   Aktualisasi  diri

Kebutuhan individu yang harus segera dipenuhi terutama adalah kebutuhan biologis (fisiologis) seperti makan dan minum, sedangkan dari sudut non ekonomi terutama kebutuhan cinta kasih, penghargaan, keamanan dan aktualisasi diri.

Bagi setiap orang menjadi ang­gota koperasi pasti didasari oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu, yang dapat diraih dari koperasi tersebut. Bagi orang yang secara ekonomi cukup kuat, mungkin kebutuhan non ekonomi lebih kuat dibandingkan dengan kebutuhan ekonominya. Sebaliknya bagi orang yang lemah kondisi ekonominya, motif ekonomi lebih dominan menjadi alasan bagi masuknya ia ke dalam koperasi.

Jika suatu koperasi memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi kepada seseorang dari­pada organisasi lain, ini berarti koperasi lebih tinggi kemampuannya dalam memuaskan keingin­an orang tersebut. Dalam konsep ini tentunya harus diasumsikan bahwa para individu terutama dimotivasi oleh "self interested", artinya kepentingan diri sendiri yang diutamakan.

Bila benefit atau manfaat yang dihasilkan koperasi bagi seorang anggota adalah lebih besar daripada manfaat yang dapat dicapai oleh individu itu bila dia tetap tinggal di luar koperasi, maka individu itu barangkali akan tetap tinggal dalam koperasi itu dan koperasi bahkan dapat menarik anggota baru. Secara lebih spesifik lagi, setiap individu akan mendasarkan keputusan-keputusan mereka dengan memban­dingkan advantages (keunggulan/kelebihan) dengan disadvantages (ketidakunggulan). 

 

 Advantages Koperasi > Advantages Organisasi lain 

Manfaat utama yang diharapkan dari keanggotaan koperasi adalah dukungan koperasi ter­hadap kelancaran / kestabilan usaha, dan atau kebutuhan konsumsi para anggota, seperti :

a.    Pemasaran hasil produksi para anggota dengan harga jual yang lebih tinggi dan atau lebih stabil.

b.    Pengadaan input untuk anggota dengan harga beli yang lebih rendah dan atau lebih stabil.

c.    Pengadaan kebutuhan konsumsi dengan harga, yang lebih murah dan atau stabil.

Dengan kata lain efek koperasi merupakan hasil pengembangan anggota melalui

Efek koperasi = keuntungan dari koperasi - keuntungan dari non koperasi

koperasi.  Efek koperasi tidak akan terjadi secara otomatis, tetapi harus dihasilkan atau diperjuangkan oleh koperasi. Efek koperasi harus ditemukan dan diperoleh dan jika telah ditemukan, penemuan itu harus diperjuangkan atau dilaksanakan.  Menurut Ropke (1992), efek koperasi dianggap memiliki dua komponen, yaitu :

a.    Koperasi harus mampu bertahan melawan pesaing-pesaing (uji pasar)

b.    Koperasi harus mampu merangsang anggota untuk berpartisipasi dalam pencapaian prestasi (Uji partisipasi).

III.        KEUNGGULAN STRATEGIS BERKOPERASI

Terdapat tiga pilar utama yang harus dikedepankan dalam melihat keunggulan strategis berkoperasi, yaitu koperasi itu sendiri (cooperative), para anggota atau anggota potensial (member or potential members) dan pesaing (competitor). Masing-masing dari komponen strategis tersebut sering disebut "The Third's C Strategic" (Customer/members, Cooperative and  Competitor).

Gambar: Segi Tiga Strategis

 

 Terkadang cara berpikir koperasi tradisional hanya dibangun di sekitar hubungan an­tara perusahaan koperasi dengan anggotanya dan kurang memperhatikan peranan pesaing dalam sistem pasar. Padahal sebenarnya untuk memberikan keunggulan kepada para anggota tidaklah cukup hanya dengan keberhasilan hidup (survival) dari suatu koperasi yang dibangun atas hubungan koperasi dengan anggotanya, tetapi koperasi itu harus mampu bersaing dengan or­ganisasi lain (pesaingnya).

Anggota koperasi seharusnya mendapat manfaat khusus dari koperasi karena sebagai pelanggan yang sekaligus sebagai pemilik anggota akan mendapat promosi khusus.  Kelayakan studi koperasi didasarkan kepada dapat menciptakannya manfaat khusus tersebut bagi anggota. Koperasi yang tidak dapat memberikan manfaat khusus bagi anggota tidak memenuhi kelayakan studi. Selanjutnya manfaat yang diperoleh dari koperasi harus senantiasa lebih besar dari pada manfaat yang dapat diperoleh, dari perusahaan non koperasi. Keadaan demikian menunjukkan koperasi telah lulus dari "cooperative test". Hal ini berarti pula bahwa koperasi telah lulus dari "market test", yakni koperasi dapat menghasilkan manfaat-manfaat yang setidak­-tidaknya sama dengan yang dihasilkan oleh perusahaan non koperasi. Di samping itu koperasi juga harus memenuhi "participation test", yakni manfaat itu harus dapat direalisasikan kepada anggotanya.

Yuyun Wirasasmita (1991) menyatakan bahwa pada kebanyakan koperasi saat ini masih menunjukkan hal-hal sebagai berikut :

a.  Fungsi dan tujuan koperasi tidak seperti yang diinginkan oleh anggota.

b.  Struktur organisasi dan proses pengambilan keputusan sukar dimengerti dan dikontrol, struktur organisasi dari sudut pandang anggota dianggap terlalu rumit.

c.   Tujuan koperasi dari sudut pandang anggota sering dianggap terlalu luas atau terlalu sempit.

d.  Perusahaan koperasi dengan para manajernya sangat tanggap terhadap arahan pengurus dan atau pemerintah tetapi tidak tanggap terhadap arahan anggota.

e.  Fasilitas koperasi terbuka juga bagi non anggota sehingga tidak ada perbedaan manfaat yang diperoleh anggota dan non anggota.

Para anggota dapat mengharapkan "Promosi Khusus" dari kepentingan (interest) mereka. Dengan demikian setiap orang yang tertarik menjadi anggota koperasi atau tetap menjadi anggota koperasi disebabkan 

Dalam pengertian yang sangat umum dapat dikatakan bahwa ada dua kondisi yang harus dipenuhi bagi suatu koperasi agar menjadi alternatif yang menarik bagi para anggota dan calon anggota, yaitu:

a.  Koperasi harus dapat menghasilkan paling sedikit kelebihan yang sama dengan perusahaan non koperasi. Koperasi harus menjadi pemenang dalam persaingan dan harus mempunyai potensi untuk memberikan "advantages" khusus atau keunggulan khusus pada para anggo­tanya.

b.  Bahkan sungguh pun koperasi dapat memenangkan persaingan dalam suatu kondisi khusus; tetapi para anggota tidak dapat berpartisipasi dalam keunggulan itu, mereka akan kehilangan interest mereka untuk tetap tinggal dalam koperasi. Para anggota harus mampu mengendali­kan manajemen koperasi dengan cara menuntut agar manajemen itu mampu dan bersedia mempromosikan interest para anggota.

IV.       KEUNGGULAN BERKOPERASI

Tidak dapat dipungkiri, bahwa sesungguhnya koperasi sangat memungkinkan untuk memperoleh keunggulan komparatif dari perusahaan-per­usahaan lain yang non koperasi adalah cukup besar mengingat dalam kondisi tertentu koperasi mempunyai potensi kelebihan dalam hal, economics of scale, competition, interlinkage market, participation, transaction cost, dan reduksi terhadap resiko ketidakpastian.

a.         Economics of Scale

Economies of scale merupakan faktor yang memungkinkan perusahaan memproduksi out­put lebih banyak dengan biaya rata-rata lebih rendah. Skala ekonomis ini dapat diperoleh karena:

1)    aktivitas nyata, seperti spesialisasi, administrasi personalia yang lebih baik, dan reduksi ketidakpastian,

2)    faktor-faktor precuniary, misalnya harga input yang lehih hesar karena pemhelian dalam jumlah banyak, kemampuan meningkatkan modal dengan biaya rendah, dan menurunkan biaya transport.

3)    efek 'biaya tetap yang timbul karena produksi masa dalam jumlah besar sehingga rnenghasilkan biaya tetap rata-rata yang semakin rendah dengan semakin besarnya output yang dihasilkan.

b.         Competition

Kemampuan koperasi dalam kompetisi terutama karena koperasi mempunyai potensi dalam menciptakan economies of scale sehingga mampu menetapkan harga dan jumlah yang bersaing di pasar. Di samping itu juga karena koperasi mampu menciptakan bargaining position di pasar melalui kekuatan dalam penawaran barang.

c.         Inter Linkage Market

Inter linkage market adalah keterkaitan pasar yang terjadi karena adanya hubungan antara pembelian dan penjualan. Koperasi produsen terkait dengan koperasi penjualan, koperasi pembelian dan koperasi kredit. Koperasi kredit memberikan pinjaman kepada koperasi produksi dan produsen menjual produknya melalui koperasi penjualan.

d.         Participation

Keunggulan koperasi dalam hal partisipasi terutama karena prinsip anggota sebagai pemilik yang sekaligus sebagai pelanggan. Dengan prinsip ini seorang anggota sudah semestinya membiayai koperasi miliknya dengan memberikan kontribusi keuangan dalam bentuk simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela dan bila perlu melalui usaha pribadinya.

e.         Transaction Cost

Faktor lain yang dapat menurunkan biaya koperasi pada koperasi adalah rendahnya biaya transaksi (transaction cost). Biaya transaksi adalah biaya-biaya yang ada di luar biaya produksi atau biaya yang timbul atas pengenaan penukaran suatu produk. Biaya ini timbul ketika suatu or­ganisasi perusahaan mengadakan pembelian input dan penjualan output.

f.          Reduksi Terhadap Risiko Ketidakpastian (Uncertainly)

Masalah ketidakpastian (uncertainty) timbul karena faktor eksternal. Koperasi maupun badan usaha yang lain mempunyai ketidakpastian dalam hal harga barang, permintaan dan pena­waran, modal, tingkat bunga, dan lain-lain. Semakin tinggi tingkat ketidakpastian, makin tinggi risiko yang dihadapi, dan makin besar biaya transaksi yang harus dikeluarkan. Ketidakpastian dapat dikurangi dengan mengadakan perjanjian (misalnya perjanjian sub-contracting) atau dengan mengasuransikan.

V.        MANFAAT  EKONOMI BAGI ANGGOTA

Manfaat ekonomi bagi anggota koperasi sering disebut dengan istilah Promosi Ekonomi Anggota, yang memiliki pengertian peningkatan pelayanan koperasi kepada anggotanya dalam bentuk manfaat ekonomi yang diperoleh sebagai anggota koperasi.

Tugas koperasi untuk menghasilkan manfaat ekonomi dalam upaya menunjang peningkatan kegiatan ekonomi anggota, yaitu bahwa tugas pokok badan usaha koperasi adalah menunjang kepentingan ekonomi anggotanya dalam rangka memajukan kesejahteraan anggota (promotion of the member’s welfare). Anggota sebagai pemilik dan sekaligus pengguna jasa (user-owner oriented firm) yang sering disebut dual identity of the member, maka anggota harus memperoleh pelayanan yang optimal (user) tetapi di sisi lain dengan pelayanan yang optimal sehingga akan memperoleh manfaat ekonomi, maka anggota diharapkan akan berpartisipasi penuh terhadap kegiatan koperasinya.

            Oleh karena itu fungsi ekonomi yang harus dijalankan oleh koperasi adalah meningkatkan ekonomi anggotanya, dalam hal ini adalah bisnis anggotanya, bukan mengejar SHU koperasi yang sebesar-besarnya, koperasi sebagai pemasar produk anggota dan atau penyedia/pengadaan input yang dibutuhkan oleh anggota, termasuk modal.

            Dengan fungsi demikian, koperasi diharapkan dapat mempromosikan ekonomi anggotanya melalui usaha tersebut. Sehingga dengan manfaat tersebut, akan tumbuh kesadaran anggota untuk selalu berpartisipasi kepada koperasinya, baik yang bersangkutan sebagai pemilik maupun sebagai pengguna jasa. Sebagai pemilik (owner), anggota akan berpartisipasi dalam menyetor modal, pengawasan dan pengambilan keputusan, demikian pula anggota sebagai pengguna jasa (user) akan selalu berpartisiapsi dalam pemanfaatan pelayanan yang diberikan oleh koperasi, karena koperasinya dapat mempromosikan ekonomi anggota melalui pemberian insentif yang lebih dibandingkan bila anggota bertransaksi dengan perusahaan lain, seperti insentif harga pembelian yang lebih murah, insentif bunga pinjaman yang lebih kecil, dan harga jual produk yang lebih menguntungkan.

VI.       BENTUK-BENTUK PROMOSI EKONOMI ANGGOTA

Manfaat ekonomi yang dapat diberikan tergantung pada jenis koperasi dan usaha yang dilaksanakan oleh koperasi tersebut. Setidaknya terdapat empat manfaat ekonomi, yaitu:

a.    Manfaat ekonomi dari pembelian barang atau pengadaan jasa bersama;

b.    Manfaat ekonomi dari pemasaran dan pengolahan bersama;

c.    Manfaat ekonomi dari simpan pinjam lewat koperasi;

d.    Manfaat ekonomi dalam bentuk pembagian sisa hasil usaha (SHU).

Untuk memahami bentuk-bentuk manfaat ekonomi langsung harus didasarkan pada masing-masing jenis koperasi berdasarkan pada kepentingan anggotanya, yaitu koperasi konsumen, koperasi produsen, dan koperasi simpan pinjam.  Secara umum manfaat koperasi dapat dilihat dalam bagan berikut ini :

 

Gambar : Bentuk-bentuk Manfaat Ekonomi Langsung

Sumber : Tim Ikopin, Pedoman Umum Implementasi PSAK No. 29 tahun 1999

Salah satu manfaat ekonomi langsung bagi anggota, ialah berupa manfaat harga, yaitu harga barang dan jasa (dalam pembelian dan penjualan) dan harga uang (bunga dalam simpan pinjam). Di dalam pembelian (Koperasi Konsumen), manfaat harga berupa selisih antara harga di koperasi dengan harga di luar koperasi. Seharusnya harga di koperasi lebih murah  dari pada harga di luar koperasi, disebut manfaat efisiensi pembelian. Di dalam pemasaran/penjualan (koperasi produsen atau koperasi pemasaran), manfaat harga berupa selisih harga antara harga yang dibayar oleh non koperasi kepada anggota. Seharusnya harga koperasi lebih tinggi dari harga non koperasi, disebut manfaat efektivitas penjualan. Di dalam hal simpan pinjam maka :

1)    Bunga tabungan yang diterima anggota dari luar koperasi, disebut manfaat efektivitas tabungan;

2)    Bunga kredit yang dibayarkan anggota kepada koperasi lebih rendah dari bunga kredit di luar koperasi, disebut manfaat efisiensi penarikan kredit;

3)    Atau manfaat lain misalnya dalam bentuk biaya transaksi kredit yang murah, persyaratan kredit yang ringan dan lain-lain.